Membangun Kembali Semangat Membara OMK Wonosari
Orang Muda Katolik (OMK) satu Paroki Wonosari mengadakan acara temu kumpul di Kapel Petir, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul pada hari Sabtu, 29 Oktober 2022. Acara dihadiri sekitar ±40 orang dari seluruh penjuru wilayah yang ada di Paroki Wonosari. Tema acara kali ini adalah “Umbuk Pethuk Dadi Gathuk”. Umbuk berarti iuran, dengan kata lain dalam menyelenggarakan acara ini peserta wajib berkontribusi sebesar Rp20.000,00. Akan tetapi, maksud utama dari iuran di sini bukan semata-mata hanya berupa material. Tetapi, acara ini tercipta dari ‘iuran’ keresahan teman-teman OMK bersama. Pethuk berarti bertemu. Umumnya kalau kumpulan orang memiliki satu masalah keresahan yang sama, harus bertemu untuk mengobrol dan mencari jalan keluar bersama. Akhirnya, setelah memiliki satu pandangan dan tujuan yang sama, maka kita akan semakin dekat satu sama lain sehingga akan lebih mudah dalam kelanjutan dinamika (gathuk).


Yohanes Marensul, selaku ketua panitia menjelaskan bahwa terbentuknya acara ini bermula dari adanya obrolan dari teman-teman muda Gereja yang tidak memiliki kegiatan dan orang-orangnya yang hilang. “Karena pandemi sih, aku mengakui itu,” ungkap ketua panitia yang akrab disapa Yohan tersebut. “Tapi sebenernya sebelum pandemi pun orang-orangnya udah hilang perlahan-lahan, makanya kita inisiatif untuk membuat acara ini dan Puji Tuhan bisa terlaksana dengan lancar,” lanjutnya. Namun demikian, sebuah ketidakmungkinan jika suatu acara memiliki panitia yang tidak struggle. Yohan mengatakan menjadi panitia dalam acara ini tentu terdapat suka dan duka. Sukanya adalah lebih dapat mengakrabkan diri dengan teman-teman dan sekalian belajar juga bagaimana prosedur membuat acara yang baik. Lalu untuk dukanya adalah di bagian tenaga kerja yang kurang sehingga per orang panitia harus double job. Selain itu, pembagian waktu antara kerja/kuliah dan kepanitiaan agak sulit karena melihat juga sebagian besar instansi sudah offline. “Yang lain paling ya cari pesertanya itu agak sulit sih apalagi masalah koordinasi dengan ketua wilayah,” ujar Yohan, “Tapi overall peserta bisa memenuhi target kok, gayeng pol pokoke”.


Romo Adi, selaku pendamping Romo Paroki Wonosari turut memeriahkan acara ini. Romo Adi ikut berdinamika bersama teman-teman OMK sebagai wujud perhatian dan rasa bahagia. Baik Romo Siwi maupun Romo Adi, mereka memberikan kebebasan kepada para panitia dalam menyiapkan acara ini. Romo hanya bisa memberikan doa, dukungan, dan bantuan berupa material (dana). Selain itu, Frater Bram yang sedang menjalankan tugas di Paroki Wonosari selama satu tahun ke depan, juga ikut membantu panitia dalam menyelenggarakan acara ini. Frater menjelaskan alasannya mau bergabung dan membantu menyiapkan acara ini, karena dapat menjadi sarana belajar Frater untuk nanti kedepannya. “Ketika nanti saya dipindah tugaskan kemudian bertemu dengan OMK yang sama dengan di sini (Wonosari), dalam artian kurang aktif juga, saya jadi udah tau sekiranya sesuatu apa yang bisa saya lakukan gitu.” Sebagai ketua panitia, Yohan sungguh sangat berharap bahwa setelah acara selesai, mindset (pola pikir) OMK berubah, yakni bahwa OMK tidak hanya bertemu dan berkumpul ketika ada acara saja. Harapannya OMK juga bisa menjadi ‘rumah kedua’ bagi teman-teman muda semuanya untuk sarana mengekspresikan diri dan berbagi cerita satu sama lain. “Ya biar bisa sekalian cari jodoh juga lah. Sambil menyelam minum air, hehehe,” tutup Yohan.
Penulis : Paola Malvi Rambumerah Revolusi
Fotografer : Dhio

