Sejarah Gereja

Sejawah Awal Umat Katolik Wonosari Gunungkidul

Awal berdirinya umat Katolik Paroki Santo Petrus Kanisius, Wonosari, Gunungkidul tidak lepas dari peran misi Serikat Jesus (SJ) dalam mendidik pribumi. Pada bulan Maret 1919 seorang imam Jesuit guru Kolese Muntilan, Romo Hendricus Van Driessche SJ pindah ke Yogyakarta. Pada tahun (1923/1924), Romo Van Driessche bersama romo stasi Kota Baru Yogyakarta  Fransiscus Straeter SJ memulai karya pewartaan injil melalui pendidikan seiring dengan berdirinya Yayasan Pendidikan Kanisius pada tahun 1918. Disusul berdirinya sekolah rakyat di Yogya dan perkampungan desa daerah terpecil, termasuk Wonosari. Tetapi, 10 Juni 1934 Romo Van Driessche meninggal dunia dan misi pelayanan diteruskan Romo Fransiscus Straeter SJ.

Misi pewartaan injil melalui karya pendidikan Romo Staeter SJ dibantu awam katekis masa itu membuahkan kabar menggembirakan. Ditandai dengan adanya pembaptisan perdana seorang bernama Clementinus Sastrodikromo pada 19 April 1924 di Bintaran. Pembabtisan pertama seorang pemuda 13 tahun inilah menandai dimulainya penggembalaan dan pelayanan iman katolik di wilayah Wonosari, Gunungkidul.

Melalui sekolah misi di beberapa tempat di Gunungkidul seperti Beji, Kuwon, dan Besole di tahun 1931, serta pelayanan umat Katolik, mendorong Romo Staeter SJ mendirikan bangunan gereja pertama kalinya pada tanggal 28 Desember 1934 diatas lahan seluas 12 x 15 meter persegi. Romo Straeter SJ memberkati gereja Wonosari. Secara resmi gereja Wonosari menjadi stasi dari Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, yang sudah resmi berdiri sebagai paroki mandiri pada 1 Januari 1934 dari Paroki Santo Fransiskus Xaverius, Kidul Loji, Yogyakarta.

Semangat pewartaan injil tak pernah redup. Masa pendudukan Jepang sangat berpengaruh bagi perkembangan misi pewartaan injil bagi gereja Katolik. Seperti nasib gereja di beberapa tempat beralih menjadi gudang Jepang, perkantoran tentara Jepang, dan kamp-kamp tahanan. Gereja Katolik Wonosari yang baru berdiri juga mengalami hambatan. Seluruh sekolah misi dipaksa menghentikan aktivitas belajar. Aktivitas peribadatan umat dibatasi secara ketat. Misionaris Belanda ditangkap Jepang dan dijebloskan ke kamp-kamp interniran. Tak terkecuali, Romo Straeter SJ. Dalam perjalanan dari Wonosari menuju Paroki Kotabaru, tepatnya di daerah Piyungan, ia ditangkap tentara Jepang. Romo Straeter SJ ditawan di penjara Cipinang/Sukamiskin pada tahun 1943 dan meninggal akibat penyiksaan pada tahun 1944. Karya penggembalaan umat Katolik diteruskan oleh ketua kring yang ada di kampung-kampung yang telah dibentuk sebelumnya oleh Romo Straeter.

Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 memberi denyut bagi kehidupan Gereja Katolik Wonosari. Pewartaan injil terus- menerus dilakukan dalam karya penggembalaan terhadap 341 umat katolik pada tahun 1952. Uskup Keuskupan Agung Semarang, MGR Albertus Soegijopranoto menetapkan stasi Wonosari secara resmi menjadi Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari pada 27 April 1952. Penetapan paroki ditandai dengan diangkatnya Romo Wilhelmus Vendel SJ sebagai Romo Paroki Wonosari. Penggembalaan umat semakin pesat semasa Romo T. Widyana SJ, yakni dengan pemugaran gereja perdana yang didirikan Romo Strater SJ untuk tujuan perluasan. Bersamaan dengan itu dibentuklah Paguyuban Gereja Papa Miskin (PGPM) untuk pertama kalinya pada 12 Juli 1957 guna memperluas jangkauan pelayanan umat Katolik di Kabupaten Gunungkidul yang memiliki luas mencakup 45% dari luas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Berdiri Sebagai Paroki

Benih iman yang mulai disebarkan di Gunungkidul sejak tahun 1923 telah menjadi pohon besar yang beranak pinak. Selama berdiri sebagai paroki, silih berganti Romo Jesuit berkarya di Gunungkidul, seperti karya pengembangan tempat ziarah, pengembangan iman umat, karya panggilan dan perutusan, serta pengembangan sarana prasarana. Hal tersebut diikuti dengan munculnya kapel-kapel baru di wilayah Ngijorejo, Beji, Bogor, Bandung, Pulutan, Kelor, Semanu, Candirejo, Sambeng, Ngeposari, Panggang, Nglipar, dan Blekonang Tepus.

Demi praktis dan mengefektifkan pelayanan pastoral, maka pelayanan dibagi ke dalam 3 sektor yang pada akhirnya menjadi 3 paroki , yaitu :

  • Sektor Barat yang berpusat di Gereja St. Yusup Bandung meliputi Kapanewon Playen, Panggang, Purwosari, Saptosari, Patuk,  Gedangsari, dan sebagian Wonosari (Desa Gari)
  • Sektor Tengah yang berpusat di Gereja St. Petrus Kanisius Wonosari meliputi Kapanewon Wonosari (kecuali Desa Gari), Paliyan, Semanu, Tepus, Tanjungsari, Rongkop, Girisubo, Nglipar, dan sebagian Ponjong (Desa Trengguno)
  • Sektor Timur yang berpusat di Gereja St. Petrus dan Paulus Kelor meliputi Kapanewon Ponjong (kecuali Dusun Trengguno), Karangmojo, Semin dan Ngawen

Pada 1 Januari 1998, wilayah Timur yang berpusat di Gereja St. Petrus dan Paulus Kelor ditetapkan menjadi Paroki Administratif dan pada 2 Agustus 2006 Kelor menjadi Paroki Mandiri. Lalu, pada tahun 2008, wilayah Barat yang berpusat di Gereja St. Yusup Bandung, ditetapkan sebagai Paroki Administratif dan pada 8 Oktober 2017 Bandung ditetapkan sebagai Paroki Mandiri. Dengan begitu, Wonosari telah membidani kelahiran dua paroki baru.

Paroki Santo Petrus Kanisius secara administratif meliputi tujuh Kapanewon, yaitu : Kapanewon Wonosari, Semanu, Girisubo, Rongkop, Tepus, Paliyan, dan Nglipar (dan Ponjong)

Pada akhir tahun 2018, Tujuh kapanewon di Paroki Wonosari terbagi dalam 12 wilayah dan 57 Lingkungan, dengan pembagian wilayah. Dalam Kota Wonosari ada 4 wilayah dan 19 lingkungan dan luar Kota Wonosari ada 8 wilayah dan 38 lingkungan. Kapel-kapel yang berada di dalam wilayah administratif Paroki Wonosari, meliputi : Kapel Wilayah, ada 5 : Kapel Pulutan, Singkil, Tepus, Semanu , Ngeposari, Jati, dan Baran. Kapel Lingkungan, ada 7 : Kapel Nglipar, Menthel, Kwangen, Cuwelo, Pokdadap, Trengguno, dan Petir.

Penyerahan pelayanan Paroki dari Serikat Jesus (SJ) kepada Keuskupan Agung Semarang

Provinsial Serikat Jesus melalui Romo Benedictus Benny Juliawan SJ menyerahkan seluruh aset dan tata kelola Paroki St. Petrus Kanisius sepenuhnya menjadi pengelolaan ke Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 9 Agustus 2020. Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko selanjutnya menugaskan RD. Norbertus Sukarno Siwi, Pr dan RD. Ignatius Adi Sapta Wibowo, Pr melanjutkan karya penggembalaan umat di Paroki St. Petrus Kanisius Wonosari.