KUNJUNGAN KELUARGA : KISAH PAK NOTO YANG SUKA LUPA JALAN PULANG
Siklus kehidupan berkeluarga yang dimulai dengan perkawinan, kemudian menerima kehadiran anak, merawat dan mendidik anak sampai mereka dewasa hingga mandiri di kehidupannya, mengembalikan dua orang yang hidup sebagai suami istri tinggal berdua di rumah.
Pasangan suami istri yang tinggal berdua di rumahnya banyak terjadi di Masyarakat, termasuk di paroki kita. Hal ini kondisi yang umum ditemui dan sadar atau tidak sadar salah satu dari wujud doa yang dikabulkan. Mari kita bayangkan, puluhan atau belasan tahun silam anak-anak masih kecil dalam hati kita mendoakan mereka agar berhasil di dalam studi, sampai lulus sekolah kemudian bekerja sesuai passionnya. Konsekuensinya lokasi pekerjaan tidak satu kota dengan orang tua, karena kita juga harapkan mereka mandiri dalam kehidupannya. Anak-anak tinggal di kota lain, sementara orang tua tetap di rumahnya. Sampai kemudian anak-anak ini berkeluarga dan dikarunia anak, siklus kehidupan berulang kembali.

Hal ini juga dialami pasutri Yohanes Noto Wiharjo. Mereka tinggal di rumah tembok sederhana di lingkungan Purwosari Selatan. Saat menginjakkan pertama di rumah ini, saya terkesan dengan kebersihan dan kerapiannya. Memasuki teras berlantai keramik, kami menuju ruang tamu memanjang dengan isi dua set kursi tamu. Ibu lebih dahulu menyambut kedatangan kami, dilanjutkan Bapak Yohanes menyambut kami dari ruang keluarga.
“Putrane pinten Pak?” sapa Bu Bekti yang siang ini sebagai timpel keluarga Paroki. “Enam Bu”, sahut Bapak. “Siapa saja?”, lanjut Bu Bekti. Lalu Bapak Yohanes menyebut nama putra-putranya. Sudah ada 4 nama yang disebutkan, Pak Noto terdiam agak lama mengingat nama putra yang lain. Lalu Ibu membantu mengingatkan, sampai kemudian dia bisa menyebut nama pendek putranya.
Bu Noto melanjutkan cerita, keenam anaknya tidak ada yang tinggal di rumah ini. Semua berkeluarga dan tinggal di rumahnya sendiri. Pak Noto yang dahulu bekerja di bangunan, dengan raganya yang sudah berumur 85 tahun, tidak lagi mencari nafkah. Sehingga kehidupannya disokong oleh anaknya. Ada yang membayarkan Listrik dan air, ada yang mengirimi uang untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Pak Noto kalau “gabut” sering berjalan-jalan. Saya suka dolan, katanya. Namun yang mengkhawatirkan Bu Noto, Bapak ini suka lupa jalan pulang. Pernah suatu kali dari gereja berjalan ke arah barat sampai di depan Amigo, untunglah ada warga yang mengetahui.
Hari ini Bapak agak genep, kata Bu Noto, sambil senyum, karena Pak Noto bisa bercerita secara runtut dan menanggapi timpalan-timpalan kami juga turut tertawa gembira.
Bapak kalau di gereja harus saya pijik kepalanya supaya tidak jalan keluar. Romo sudah apal, kata Bu Noto cerita tentang Bapak yang maunya jalan terus menghilangkan kebosanan. Dalam usianya yang cukup lanjut Pak Noto memang masih kuat berjalan pelan. Namun Bu Noto kakinya sudah sakit jika berjalan agak jauh. Sehingga tidak bisa menemani Pak Noto yang suka berjalan ini.
Dinamika relasi pasutri yang di usia senja bergayut di antara kesepian ditinggal anaknya, merasa tidak terperhatikan dan kehendak untuk tetap beraktivitas seperti saat masih muda. Mendengarkan cerita dari lansia ini malah menjadi refleksi bagi penulis untuk membayangkan, bagaiman aku akan menjalani usia lanjut nanti.
Di dalam kehidupan mereka yang kelihatannya sepi tersimpan mutiara berharga, yaitu ketangguhan menghadapi hidup. Ketangguhan yang saat ini menjadi hal yang mahal, karena kenyamanan membuat anak muda menjadi mudah retak dan depresi. Pak Noto dengan pekerjaan yang sederhana ternyata mampu mengentaskan anak-anaknya menjadi mandiri. Rumah yang sederhana namun bersih dan rapi juga bukti nyata pasutri ini sangat tekun merawat yang menjadi miliknya.

Kunjungan keluarga ini merupakan program bidang paguyuban paroki. Tim Keluarga bersama Frater Ian mengunjungi beberapa umat di lingkungan. Kriterianya apa? Menurut Bu Bekti tidak ada kriteria seperti apakah keluarga yang akan dikunjungi. Para keluarga yang dikunjungi tidak perlu menyediakan minum dan snek, karena tim hanya sebentar saja. Tujuan utama kunjungan ini adalah untuk menyapa keluarga dan berdoa bersama. Semoga sapaan kecil ini bisa meneteskan kebagiaan… Berkah Dalem.
(Alusius Heru Tricahyanto)

