KISAH IMAN TIAP PRIBADI ITU UNIK
Hampir semua orang Katolik bila ditanya apakah percaya kepada Yesus, pasti akan menjawab percaya. Bahkan beberapa waktu lalu saat ada kegitan pendalaman kitab suci di lingkungan salah seorang umat mengatakan jika boleh saya ingin beriman 110 persen kepada Yesus.
Memang selalu memiliki kisah yang menarik dari setiap orang. Iman yang tidak memiliki kisah akan terlalu abstrak dan belum sepenuhnya Kristiani, Romo Wardi Saputra menuliskan hal ini di salah satu bukunya. Guru yang saya ikuti adalah Yesus, yang menyejarah di jaman Masyarakat Yahudi. Tentu aku mengenal Yesus melalui ajaran-ajarannya dari bacaan di Kitab Suci yang aku dengar maupun aku baca. Namun di sisi lain pengalaman hidup menjadikan dialog iman ini menjadi sangat pribadi sehingga pengenalanku kepada Yesus juga amat personal. Dengan kalimat lain kisah imanku unik, sebagaimana kisah iman tetanggaku. Dalam beriman dan mengikuti Yesus kita tidak bisa saling meniru. Tetapi tentu membutuhkan semacam pembanding dari teman di sebelahku. Kalau kisahmu bagaimana? Inilah yang menjadi pendorongku untuk berusaha hadir selama pertemuan BKSN di lingkungan.
Aku tinggal di Lingkungan Santo Yohanes, kalau di Paroki ini masuk di wilayah dalam kota Wonosari. Dengan jumlah umat 52 KK lingkunganku ini bisa meriah kalau semua orang ikut kegiatan di lingkungan. Namun untuk kegiatan BKSN sepertinya tidak terlalu diminati, kalah pamor dengan kegiatan tilikan orang sakit. Di pertemuan BKSN biasanya dihadiri 10-15 orang sementara kalau ada kegiatan tilikan hamper 40 orang yang ikut.
Tema pertemuan BKSN di minggu keempat September ini adalah pembaruan relasi dengan Allah. Pada teks pengantar di buku panduan, sengaja dituliskan : “….. kita bisa jadi tergoda untuk mempertanyakan keyakinan iman kita, karena kenyataan hidup sepertinya tidak sesuai dengan keyakinan iman kita itu”.
Anganku melayang pada seorang umat yang pernah menyeberang ke keyakinan sebelah, hidup dengan harta yang melimpah, lalu bangkrut dan kini Kembali ke Yesus. Dalam sharingnya, dia hanya bilang singkat : “tidak usah belok-belok, aku percaya Yesus, sudah gitu aja”.
Sebelahku juga bercerita kalau Tuhan itu sudah ada di sini, seraya telapak tangannya menyentuh di dada. Aku sudah mengenal lama ibu ini, usahanya sukses dengan beberapa toko bangunan. Pikniknya juga sudah jauh ke luar negeri dan hampir setiap tahun. Untuk soal uang dan harta benda lain bukan tentu sudah lebih dari cukup, waktu itu. Perjalanan hidupnya mengharuskan melepas hampir semua tempat usahanya, pulang kembali ke rumah orang tuanya. Lalu saat ini setiap kali sharing, kalimat-kalimatnya sudah menep, enak didengar.
“Setiap saat kita bernapas, dan itulah Tuhan sudah hadir dalam diri kita. Nafas itulah nafas hidup,” imbuhnya.
Saat kehidupan berlangsung baik, dari kebutuhan materi berlimpah, memang sering muncul godaan : buat apa taat beribadah, buang waktu saja. Apalagi kumpul bareng di pertemuan di lingkungan. Mau dapat apa di sana.
Ini juga aku tanyakan pada diriku, apa yang aku dapatkan dari berbagi pengalaman selama pertemuan BKSN ini. Kesaksian inspiratif, unik, khas dari tiap pribadi bagiku adalah harta yang mahal. Hal ini adalah energi positif, membangunkan kita dari kegalauan hidup, rasa khawatir yang berlebihan, setelah itu pulang dengan perasaan penuh dan segar.
Sugeng, salah satu umat yang hadir, bercerita saat mau berangkat BKSN tadinya kepala terasa pusing, hampir gagal berangkat. Namun setelah ikut mendengarkan pembacaan Sabda, mencecap sharing dari umat yang lain Bapak yang punya keahlian memainkan gamelan ini sudah tidak pusing lagi.
Kisah iman yang unik ini tentu membutuhkan institusi dan ajarang Gereja untuk menaungi kita sebagai satu saudara dalam Yesus, agar kisah yang unik tetap berjalan dalam koridor kebenaran. (Alusius Heru Tricahyanto)

