Perayaan Pekan Suci di Kapel St. Yusuf Semanu
Kapel St. Yusuf Semanu menyelenggarakan lima perayaan pekan suci, yaitu Sabtu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Vigili Paskah, dan Hari Raya Paskah. Tata perayaannya memang dibuat lebih sederhana mengingat saat ini masih pandemi Covid-19, namun hal ini tidak menyurutkan antusiasme umat untuk tetap bersukacita menyambut kemenangan Tuhan.
Pada Misa Sabtu Palma (9/4) Romo Ignatius Fajar Kristianto, Pr menceritakan pengalamannya setelah tahbisan. Ayahnya berkata “Selamat memikul salib.” Hal ini membuat Romo menyadari bahwa selain rasa sukacita, akan ada tanggung jawab baru berupa salib yang akan dipikul sebagai seorang Romo yang telah tertahbis. Dalam kehidupan pun ada kalanya merasakan kebahagiaan dan ada kalanya merasakan kesedihan. Maka, hendaknya kita tabah dan kuat.

Umat kembali dipimpin oleh Romo Ignatius Fajar Kristianto, Pr pada Misa Kamis Putih (14/4). Pandemi Covid-19 mengakibatkan antar anggota keluarga tidak bisa bertemu dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal tersebut dirasakan pula oleh Romo Fajar dan keluarganya yang berada di Wonogiri. Ketika akhirnya ada kesempatan untuk pulang, Romo Fajar bertanya kepada orang tuanya mau dibawakan oleh-oleh apa. Jawaban dari orang tua Romo adalah “Ingin merayakan Ekaristi.” Lalu Romo Fajar membawa alat misa guna merayakan Ekaristi di rumah. Hal ini menunjukkan bahwa Ekaristi menghadirkan kerinduan untuk merayakannya. Ekaristi juga membawa daya ubah. Penghayatan Ekaristi tidak hanya melalui perkataan saja, tetapi juga harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari dimulai dari diri sendiri, keluarga, lalu kepada sesama.
Dalam homili pada Ibadat Jumat Agung (15/4), Romo Norbertus Sukarno Siwi, Pr mengatakan bahwa sengsara dan derita berkaitan dengan kegagalan sekaligus pencerahan. Kegagalan manusia untuk menerima kebenaran karena telanjur tergila-gila dengan hal-hal yang tidak benar serta harta duniawi, seperti uang, kehormatan, dan kekuasaan. Selain itu juga kegagalan manusia untuk melihat kesalahannya sendiri. Sedangkan pencerahan, yakni pengharapan supaya mengarahkan pandangan kepada Dia, Sang Kebenaran. Dan semoga kita menyadari bahwa kita adalah orang yang tidak sempurna dan hendaknya melakukan pertobatan.

Pada Misa Vigili Paskah (16/4), ada tiga hal yang disampaikan oleh Romo FX. Kusmaryadi, SCJ. Pertama, kita sekarang hidup untuk mempersiapkan kehidupan selanjutnya. Dalam melakukan perbuatan hendaknya didasari dengan niat dan hati yang tulus serta tidak semata- semata melakukannya hanya untuk mengharapkan imbalan. Kedua, berpengharapan. Sebab kita yang telah dibaptis akan memperoleh rahmat keselamatan. Ketiga, menghargai peran perempuan. Peran perempuan tampak dalam kisah sengsara sampai kisah kebangkitan, seperti Maria Magdalena yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu bahkan ia menyeka kaki Yesus dengan rambutnya; Veronika yang mengusap wajah Yesus; para perempuan yang menangisi Yesus; serta Maria Magdalena, Yohana dan Maria ibunda Yakobus, dan wanita- wanita lain yang pertama kali mengunjungi makam Yesus pada pagi-pagi buta. Hal-hal tersebut menunjukkan keberanian luar biasa yang dimiliki oleh para perempuan.
Puncak perayaan kebangkitan Tuhan, yaitu Hari Raya Paskah (17/4). Sebelum memulai homili, Romo Ignatius Aria Dewanto, SJ mengajak umat bernyanyi sebuah lagu singkat yang ia ciptakan dengan lirik “Kristus telah bangkit, soraklah haleluya. Kristus terang dunia, bersukacitalah.” Bagaimana cara mencapai sukacita? Dengan cara membangun budaya kasih di mana pun dan kapan pun. Tidak hanya dengan toleransi saja, tetapi juga berpartisipasi dalam merawat kehidupan. Sebagai contoh, kita sebagai umat Katolik hendaknya menyelesaikan masalah dengan solusi, bukan dengan kekerasan. Romo Aria juga berpesan kepada kaum muda bahwa Tuhan akan selalu melindungi dan memberi jalan, jadi jangan takut dan jangan khawatir akan masa depan.
Semoga kita dapat menghayati serta melaksanakan isi homili-homili yang telah disampaikan, terutamanya tema Paskah 2022 “Tinggal dalam Kristus Berbela Rasa dan Berpengharapan.”
Penulis : Agnes Widananti
Fotografer : Himawan Kristianto

