Perayaan Paskah Umat Paroki St. Petrus Kanisius Wonosari tahun 2022
Minggu (17/4), Umat Paroki Wonosari merayakan Paskah di Gereja Santo Petrus Kanisius yang merupakan puncak rangkaian dari pekan suci Paskah 2022. Paskah tahun ini mengusung tema: “Tinggal Dalam Kristus Berbelarasa dan Berpengharapan”.

Paskah di Hari Minggu, dipimpin oleh Romo Albertus Eko Santosa, Pr untuk misa pertama (07.00) dan Romo Eko Budi Santosa, SJ untuk misa kedua (10.00). Dalam homilinya, Romo Albertus Eko mengatakan bahwa pada Tri Hari Suci kita bersama-sama diajak untuk mengenang kembali dan memegang teguh pesan yang disampaikan oleh Yesus kepada murid-muridNya. Pesan-Nya ialah harus mengembangkan budaya kasih dalam hidup secara terus menerus dan turun temurun, seperti apa yang sudah Yesus lakukan. Pada ibadat Jumat Agung, kita diajak untuk sungguh mengungkapkan rasa cinta kasih yang begitu dalam kepada Kristus, ditandai dengan penghormatan salib. Lalu pada malam paskah atau yang sering kita sebut Sabtu Vigili, kita diajak untuk dapat tetap menjaga agar nyala terang Kristus tetap hidup di dalam perjalanan dan perjuangan hidup kita di dunia.


Inti yang dapat diambil pada perayaan pekan suci tahun ini dan dapat menjadi bahan renungan, “Sanggupkah kita merawat iman kita akan Kristus di tengah tantangan yang bermacam-macam, di tengah suatu hal yang lebih menarik perhatian kita, di tengah kekerasan, kebencian, perang, sekalipun di tengah wabah penyakit. Apakah kita sanggup?” Pertanyaan refleksi ini ditujukan kepada diri kita sendiri. Melihat sampai mana sebenarnya ketaatan iman kita pada Kristus selama ini di tengah arus zaman yang tidak pasti. Pertanyaan refleksi atau renungan tersebut dapat dimunculkan suatu rumusan yang sederhana, yakni memperbaharui janji baptis kita pada Kristus di Sabtu Vigili dan Minggu Paskah. Kita sungguh-sungguh diajak untuk mencermati kembali peristiwa atau aksi nyata apa yang dapat kita teladani dari para murid, yakni tentang bagaimana kita menemukan cara untuk merawat iman akan Kristus itu sendiri. Hati menjadi dasar untuk menentukan seluruh perjalanan hidup kita dalam berziarah di dunia ini. Semua ini menjadi pengembangan usaha kita untuk merawat hati agar menjadi pribadi yang sehati dengan Tuhan Yesus.
Pada akhirnya, perayaan Paskah menjadi peristiwa bagaimana kita sungguh-sungguh diantar hingga perayaan Pentakosta di mana kita juga diuji apakah kita sungguh punya hati yang begitu mendalam kepada Yesus sendiri. Kita diajak supaya berpola hidup yang memiliki hati yang terus dirawat dan dijaga agar hidup kita memiliki relasi yang mendalam dengan Bapa. Supaya pesan-pesan yang disampaikan oleh Yesus, terutama pesan untuk selalu menghidupi dan mengembangkan budaya kasih terus bergema dalam diri kita. Untuk dapat melakukannya, dibutuhkan kerendahan hati yang tulus dan peka.
Penulis
Merah&Helga

