Ibadat Jumat Agung

Mengenang Sengsara Tuhan Yesus Kristus

Ibadat Jumat Agung pada Jumat, 3 April 2026, dilaksanakan di Gereja Santo Petrus Kanisius Wonosari untuk mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus. Ibadat dipimpin oleh Rm. V. Indra Sanjaya yang mengajak umat untuk merenungkan makna terdalam dari pengorbanan Kristus di kayu salib.

Perayaan dimulai dengan perarakan awal yang berlangsung dalam suasana sunyi, menandakan duka mendalam atas sengsara Tuhan. Liturgi Sabda menjadi bagian penting dalam ibadat ini, dengan puncaknya pada pembacaan Injil Yohanes yang disampaikan dalam bentuk Passio. Narasi ini menggambarkan secara utuh perjalanan penderitaan Yesus, mulai dari penangkapan, pengadilan, penyaliban, wafat, hingga pemakaman-Nya sebagai puncak pengorbanan kasih bagi umat manusia.

Kisah Passio menurut Injil Yohanes memberikan warna khas tersendiri dalam perayaan Jumat Agung. Penyampaian yang dramatis dan mendalam membantu umat semakin masuk dalam peristiwa keselamatan yang terjadi. Umat diajak tidak hanya mendengarkan, tetapi juga menghayati setiap bagian kisah sengsara tersebut sebagai bagian dari perjalanan iman mereka.

Dalam homilinya, Romo V. Indra Sanjaya menekankan kekhasan Injil Yohanes dalam menggambarkan sengsara Kristus. Ia mengajak umat untuk merenungkan perbedaan antara kisah Jalan Salib yang sering didaraskan dengan kisah dalam Injil. Romo memberikan pertanyaan reflektif kepada umat, yakni dari 14 perhentian Jalan Salib, bagian mana yang tidak terdapat dalam Injil. Ia menjelaskan bahwa dalam Injil Yohanes, peristiwa-peristiwa seperti Yesus jatuh dan pertemuan dengan Simon dari Kirene tidak diceritakan, khususnya pada bagian peristiwa ke-3 hingga ke-9.

Lebih lanjut, ditegaskan bahwa dalam Injil Yohanes, Yesus ditampilkan sebagai Raja yang berdaulat, yang dengan sadar menjalani penderitaan-Nya. Salib bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sumber harapan dan keselamatan. Allah, dalam kebijaksanaan-Nya, memilih jalan penderitaan sebagai sarana untuk menyelamatkan manusia. Melalui perayaan Jumat Agung ini, umat diajak untuk semakin memahami bahwa di balik penderitaan terdapat kasih yang besar dan harapan akan kehidupan baru.

Setelah Liturgi Sabda, dilanjutkan dengan upacara penghormatan Salib Suci. Dalam prosesi ini, umat secara bergantian maju untuk menghormati salib sebagai lambang kasih dan penebusan Kristus. Suasana hening dan penuh hormat terasa kuat, menjadi momen refleksi pribadi bagi setiap umat yang hadir akan makna pengorbanan Yesus bagi kehidupan manusia. Ibadat ditutup oleh Imam dan petugas meninggalkan altar dalam suasana keheningan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *