Minggu Palma Paroki St Petrus Kanisius Wonosari
Minggu 29 Maret 2026. Perayaan Misa Minggu Palma di Gereja Santo Petrus Kanisius Paroki Wonosari dipimpin oleh Romo Norbertus Sukarno Siwi, Pr. Umat diajak untuk tidak hanya merayakan secara seremonial, tetapi juga menghayati makna terdalam dari sengsara dan wafat Kristus.

Perayaan diawali dengan pemberkatan daun palma yang kemudian diarak sebagai simbol sukacita umat menyambut Sang Raja Damai. Suasana penuh semangat tampak ketika umat mengenang seruan “Hosana Anak Daud” yang dahulu dikumandangkan di Yerusalem. Namun di balik sukacita tersebut, tersimpan juga ajakan untuk merenungkan betapa mudahnya manusia berubah, dari memuji menjadi menolak, dari menerima menjadi menyalibkan.
Bacaan Injil diambil dari Injil Matius 27:11–54 yang mengisahkan sengsara Yesus Kristus. Dalam kisah ini digambarkan bagaimana Yesus dihadapkan kepada penguasa, mengalami penghinaan, penderitaan, hingga wafat di kayu salib. Kisah sengsara ini menjadi inti permenungan umat, mengajak setiap pribadi untuk masuk dalam realitas penderitaan Kristus yang begitu nyata dan mendalam.

Dalam homilinya, Romo Siwi Sukarno menyoroti dua peristiwa penting. Pertama adalah ketaatan dan kesetiaan Kristus kepada Bapa. Mengacu pada ajaran Paulus kepada jemaat di Filipi tentang “dapur spiritualitas”, ditegaskan bahwa meskipun Kristus adalah Allah, Ia tidak mempertahankan keilahian-Nya, melainkan mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang manusia, bahkan menanggalkan kemuliaan ilahi-Nya untuk masuk dalam penderitaan manusia. Kesetiaan-Nya sampai wafat di kayu salib menjadi teladan nyata kerendahan hati sejati yang harus dihidupi oleh setiap orang beriman.
Peristiwa kedua yang ditekankan adalah realitas dan fakta sengsara yang dialami Yesus secara fisik. Dalam penderitaan-Nya, Yesus tidak membela diri dan bahkan membiarkan diri-Nya dipandang lebih rendah daripada Barabas, seorang penjahat. Ia menerima penghinaan dan penderitaan tanpa perlawanan, namun tetap setia pada misi penyelamatan umat manusia. Puncak dari kisah sengsara ini bukanlah sebuah kebodohan, melainkan perwujudan kesetiaan dan ketaatan sejati kepada kehendak Bapa.

Lebih lanjut, umat diajak untuk melihat relevansi dari peristiwa ini dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, umat diingatkan untuk menghindari kesetiaan yang semu, seperti yang terjadi di Yerusalem ketika orang-orang berseru “Hosana” namun kemudian berubah menjadi “Salibkanlah Dia.” Dalam kehidupan, tantangan dan godaan sering membuat manusia goyah. Oleh karena itu, motivasi pelayanan hendaknya tidak didasarkan pada keinginan mencari panggung, dikenal orang, atau mencari pengakuan diri, melainkan berakar pada ketulusan dan kesetiaan.
Kedua, umat diajak untuk memiliki pikiran dan perasaan yang sama seperti Yesus Kristus, yakni lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada diri sendiri serta hidup dalam kesatuan dengan Kristus. Sikap ego, merasa paling mampu, atau mengandalkan jabatan harus ditinggalkan. Sebaliknya, setiap orang dipanggil untuk berani menjadi pelayan sejati. Pertanyaan reflektif pun diajukan: apakah aku sungguh mampu menjadi pelayan sejati dalam hidupku sehari-hari?

Ketiga, umat diajak untuk mengutamakan kebersamaan dan kesatuan sebagai satu tubuh Kristus. Keberhasilan bukanlah hasil usaha satu orang saja, melainkan buah dari kerja sama seluruh umat Allah. Oleh karena itu, sikap merasa paling benar, paling suci, dan paling dibutuhkan perlu dibuang jauh-jauh. Kesetiaan, ketaatan, dan kerendahan hati seperti Yesus harus menjadi dasar dalam pelayanan, sehingga kasih, kebersamaan, dan persatuan sungguh terpancar dalam kehidupan menggereja.

