Adven, Menantikan dengan Penuh Kebahagiaan

Seperti pada tahun-tahun yang lalu memasuki bulan Desember ini Gereja mengajak umatnya untuk mempersiapkan diri menyambut hari kelahiran Yesus Kristus. Tentu tidak ada kesan mendalam jika Natal nanti menjadi rutinitas belaka tanpa ada bekasnya. Maka salah satu persiapan hati umat di setiap lingkungan diajak untuk mempersiapkan diri melalui kegiatan Sarasehan Adven.

Tahun ini terasa berbeda karena ARDAS VIII telah berakhir lalu akan masuk ke ARDAS IX 2026-2030, sehingga tema adven juga selaras yaitu Menantikan Kristus dalam semangat Gereja yang Bahagia, menginspirasi dan menyejahterakan.

Lingkungan kami, Santo Yohanes Trimulyo sengaja memulai Sarasehan ini sebelum Korona Adven diberkati. Kami memulainya di minggu ke-4 November untuk pertemuan pertama dan pertamuan keempat selesai tanggal 18 Desember.Di lingkungan kami sudah ada tim pemandu untuk AdVent dan APP. Tim ini beranggotakan 4 orang, dan bukan prodiakon. Dengan rentang umur 35-61 tahun, sehingga cukup mewakili populasi umat.

Pada sarasehan pertama Mbak Mulyaratna (35) menjadi pemandu, datang bersama putrinya Ana yang masih kelas 2 SD. DI antara yang hadir ada 3 anak SD juga, turut dilibatkan dalam sarasehatan ini. Nathan , kelas V, ditugasi membaca kitab Suci, dan Kael , kelas 3, bertugas membaca doa. Kami memang berkomitmen melibatkan anak-anak yang hadir dalam setiap sarasehan, toh tugasnya tidak sulit, mereka tinggal membaca dari buku panduan. Untuk doa pembuka dan penutup pun tidak perlu mengarang, cukup membaca doa yang sudah disiapkan cukup baik oleh tim.

Mulyaratna sebagai pemandu menyampaikan bahwa sarasehan Adven ini bukan ibadat, jadi tidak perlu  takut membagi pengalamannya. Pemandu sudah menyiapkan lagu Di Hati ini Ada Cinta, dengan iringan dari you tube kami diajak untuk goyang berjoget bareng menirukan pemandu. Wah seru sekali, ternyata walaupun terasa kagok dan kaku untuk goyang, terasa asyik juga. Sekitar lima menit bergoyang membuat badan kami terasa hangat dan suasana sudah ceria tidak ada lagi ketegangan.

Setelah napas yang hadir sudah stabil lagi Mbak Ratna lalu membagikan potongan kertas HVS dan spidol kemudian meminta tiap orang untuk membayangkan sejenak pengalaman hidupnya untuk menemukan momen yang membuatnya bahagia. Pengalaman ini diminta dituliskan secara singkat di kertas yang kemudian dimasukan ke dalam kota yang telah disiapkan.

Setelah semua mengumpulan kertasnya ke dalam kota, pemandu membacakan kenangan bahagia dari beberapa umat. Ada pengalaman Pak Wijaya (52th) yang mengenang kebahagiaannya saat ultah di masa kecilnya mendapatkan hadiah sepeda dari ortu.

“Aku merasa bahagia sekali waktu itu karena pingin sekali punya sepeda,” katanya. Kebagiaan itu membekas hingga kini. Ada juga pengalaman Bu Titik (61th) yang bahagia karena minggu lalu cucunya datang berlibur beberapa hari. Bu Sestik (60th) yang kurang sehat tapi berusaha hadir pertemuan, ternyata merasakan bahagia setelah berjumpa dengan saudara selingkungan. Bertemu, salaman, menyapa menjadi energi kebagiaan Bu Sestik. Bu Sriwidayati (77th) mudah merasa bahagia jika melihat anaknya lancar dalam bekerja dan tidak mendengar kata-kata yang bernada keras. Pak Kelik (61) mengenang saat masa anak-anaknya sakit keras, di antara kecemasan itu memunculkan kebahagiaan setelah masa kritis terlewati. Saat anaknya sakit di waktu covid, karena lokasi berjauhan dan tidak bisa menengok Pak Kelik berusaha menetralkan kecemasan dengan rekreasi ke pantai.

Dari beberapa sharing tulisan kenangan bahagia ini terlihat kalau kebahagiaan itu munculnya dari hidup keseharian dan dari pengalaman-pengalaman kecil. Seringkali permulaannya adalah rasa khawatir  seperti anak yang sakit, namun endingnya tetap bahagia.

tema sarasehan pertama adven memang mengajak untuk mencari dan menemukan momen-momen sederhana dalam keseharian yang membuat bersyukur. Sehingga kita tidak terjebak bahwa harus ada mukjijat besar dan ajaib yang menjadi syarat kita bersyukur. Dengan bersyukur ini lalu jika direnungkan lebih dalam akan terasa kehadiran Tuhan. Bahwa ternyata Tuhan pun hadir dalam setiap peristiwa tentu melalui perjumpaan dengan sahabat, teman saudara dan segala seuatu.

Lingkungan Santo Yohanes berusaha membuat sarasehan adven ini suasananya hidup. Sehingga tidak ada pendapat yang mendominasi, karena sharing pengalaman tidak ada benar salahnya. Melalui sharing ini kami belajar berbagi sukacita iman dalam pengalaman keseharian.

Alusius Heru Tricahyanto


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *