KALAU KAMU LELAH, AYO BERLIBUR DI KESUNYIAN BIARA

Trend terbaru liburan bagi generasi z di luar negeri dituliskan Kompas, ialah menyepi di kesunyian biara. Kehidupan penuh hura-hura, pamer kemewahan dan pesta pora lama-mulai ditinggalkan diganti dengan menyepi di suasana alami.

Kegiatan sehari-hari sebagaian besar dari kita harus berpacu dengan target kantor dan Perusahaan. Setiap hari yang dihadapi masalah  dan masalah yang lain, lalu hingga malam belum selesai, berulang lagi di hari esoknya. Apalagi yang bekerja di kota-kota besar, generasi milenial pergulatan hidup di aparteman, kemudian berjuang menembus kemacetan jalanan, dan bekerja di belakang meja di kantor-kantor dengan udara dari AC.

Suara alam, angin, udara segar, kicau burung dan tonggeret menjadi kemewahan yang dirindukan. Salah tempat untuk menyepi Adalah biara Pertapaan Santa Maria Rawaseneng.  Biara Pertapaan Santa Maria Rawaseneng adalah suatu kompleks biara para rahib Katolik dari Ordo Trapis yang terletak di Desa Ngemplak, Kandangan, di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Pertapaan ini didirikan secara resmi pada tanggal 1 April 1953 sebagai biara cabang dari Biara Koningshoeven di Tilburg, Belanda. Saat ini Pertapaan Rawaseneng dipimping oleh Romo Abbas Gonzaga, OCSO.

Kami mengunjungi biaya ini di Hari Minggu, 5 Oktober setelah menempuh perjalanan 5jam dari Wonosari. Lho kok lama sekali ya…  Kami berangkat kurang lebih jam 7 pagi dari Wonosari, kemudian menuju ke Makam Romo Sandjoyo di Muntilan dilanjutkan ke Porta Sancta di Gereja Santo Ignatius Magelang, baru kemudian ke Rawaseneng.

Jalan menuju pertapaan ini melewati perkampungan padat dengan jalan yang pas untuk papasan mobil, lalu berganti melewati perkebunan tumpangsari kopi dan albazia. Hawa panas sepanjang perjalanan langsung digantikan dengan kesejukan udara di halaman parkiran Pertapaan Rawaseneng. Area Rawaseneng jalannya lebih lebar disbanding jalan kampung dengan aspal hotmix mulus. Dari parkiran kami berjalan kaki di turunan menuju gereja pertapaan. Jam menunjukkan 12.15, lonceng Angelus baru saja berbunyi. Di dalam gereja yang berisi deretan kursi , di bagian depan ada sekitar 4 rahib yang duduk berlutu, tidak terdengar gumaman doa atau nyanyian ibadat. Suasana sungguh sunyi dan hening. Di sekitar gereja ad ataman doa kecil yang teduh dan sejuk. Sepertitinya para peziarah seperti kami tidak akan melewatkan begitu saja taman doa ini.

Suasana di sini sunyi dan hening membius. Membawa kami untuk duduk berdoa. Rasanya siapapun yang datang ke gereja di Pertapaan ini pasti akan tergerak hatinya untuk menikmati kesunyian yang begitu damai.

Berlibur sunyi di biara agaknya mulai menjadi trend juga di Eropa sana. Seperti yang diungkapkan pengguna Tiktok berakun mc66868 yang membagikan pengalamananya menjalani ‘laku bisu’ bersama biarawati Katolik di sebuah Biara di Eropa ; pengalaman yang luar biasa Ketika saya tinggal di sana. Sangat menyenangkan, ‘tulisnya.

Saya pun teringat pengalaman beberapa tahun lalu menginap di Pertapaan Rawaseneng bersama dua anak laki-laki kami yang masih usia SD waktu itu. Kami mengikuti ibadat bacaan para rahib yang dimulai pukul 3.30, perlu niat yang kuat untuk bangun. Kemudian ada ibadat pagi Laudes pukul 06.00 , ibadat siang/Tertia, Ibadat siang II / Sexta, ibadat ibadat siang III /Nona dan ditutup ibadat sore/Vesper.

Biara ini memang menyedian kamar untuk menginap dalam jumlah yang sangat terbatas. Para peziarah yang mau menikmatika kesunyian biasa bisa memesan kamar jauh hari kepada pengelola.

Kami menutup kunjungan singkat di Pertapaan ini dengan belanja susu, roti dan kopi yang tersedia di toko Biaya Rawaseneng. Semua produk makanan adalah hasil olahan peternakan dan Perkebunan Pertapaan. Ada hal baru, yaitu kafe kecil yang menyatu dengan toko, yang dikelola oleh Romo Edy Prasetyo Pr.Jadi pengunjung bisa langsung menikmati kopi Rawaseneng ini di tempat. Ada banyak menu yang tersedia.

Berlibur di kesunyian biara ini selaras dengan Upaya menjaga Kesehatan mental. Seperti yang dituliskan oleh laman Vice, dalam survey terbarunya hampir 250.000 muda-mudi di Amerika Serikat mengalami kelelahan mental sebelum mencapai usia30 tahun.

6 OKTOBER 2025
ALUSIUS HERU TRICAHYANTO


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *