Family Sharing Space : Teladan Orang Tua Dalam Pengasukan Anak

Permasalahan hidup berkeluarga kerap kali terjadi di kalangan pasangan yang baru menikah. Permasalahan hidup berkeluarga mengakibatkan meningkatnya angka perceraian di Indonesia dari tahun ke tahun. Di kalangan umat Gereja, permasalahan rumah tangga yang mengarah pada perceraian juga terjadi dengan segala variasinya.

Problem parenting pun kerap menghantui keluarga Katolik. Kementerian Kependukdukan dan Pembangunan Keluarga mencatat sekitar 80% anak di Indonesia mengalami situasi fatherless atau ketidakhadiran sosok ayah dalam kehidupan mereka akibat meningkatnya kasus perceraian dalam keluarga. Padahal, pendampingan orang tua sangat dibutuhkan dalam proses perkembangan anak. Kebutuhan perkembangan anak tidak cukup hanya secara fisik material saja, tetapi juga interaksi yang sehat, psikologis, mental, dan emosional yang terus terjalin hingga dewasa.

Berdasarkan situasi ini Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari merasakan perlu adanya program pendampingan keluarga Katolik. Kegiatan pendampingan keluarga yang melibatkan berbagai macam tim pelayanan paroki ini dikemas dalam bentuk program garapan. Program garapan dengan sasaran strategis keluarga ini mengacu pada outcomes dan milestones RIKAS Road Map II 2021-2025. Kegiatan ini diwujudkan dalam bentuk Family Sharing Space (FSS) dengan tag line “Keluarga Katolik hebat, Gereja kuat”

Pada tanggal 3 Agustus 2025 Paroki menggelar FSS ini dengan tema Resolusi Konflik: Teladan Orang tua dalam pengasuhan anak. Kegiatan semi seminar dan sharing ini dibawakan oleh Dra. Laksmi Nurcahyo, seorang psikologi yang tinggal di Jogja dengan rekam jejak sebagai konselor di berbagai perusahaan besar. Peserta yang disasar dalam kegiatan ini adalah pasutri dengan usia kurang dari 40 tahun, sehingga diperkirakan putra putrinya masih berusia SD. Pembatasan usia pasutri ini mengingat berdasarkan data paroki memiliki hampir 10% dari 2.051 pasutri dengan usia kurang dari 40 tahun. Sehingga paroki memandang perlu menjaga agar keluarga-keluarga ini tetap tangguh dalam menghayati hidup perkawinannya. Karena bagaimanapun keluarga Katolik ini menjadi pilar pendidikan iman Gereja di tengah hiruk pikuk kemajuan teknologi, dan naik turunnya relasi suami istri.

Dra. Laksmi menyampaikan pentingnya orang tua berperan sebagai pelatih emosi anak. Saat anak mengalamai marah, sedih, kecewa dan khawatir orang tua perlu hadir menemani anak untuk menerima pengalaman itu sebagai hal yang normal. Hal ini karena seringkali anak laki-laki yang menangis lalu diabaikan.

“Emosi itu tidak memiliki gender,” begitu Bu Laksmi menyampaikan. Anak akan lebih mudah belajar dari yang dilihat keseharian, sehingga apa yang nampak di depan mata mereka sangatlah penting. Bagaimana orang tua berelasi dan merespons saat anak-anak mengalami up and down sangatlah menentukan masa depan mereka. Seperti yang disampaikan Bu Laksmi yang hadir ditemani bapak Arif Nurcahyo, suaminya yang juga seorang Psikolog forensik.

“Biarlah waktu yang akan menyelesaikan. Namun jika waktu tidak dimaknai dengan baik  bisa meninggalkan pengalaman traumatis. Maka pertanyaan remeh yang disampaikan kepada anak seperti: “Bagaimana perasaanmu hari ini?”, “Apa yang membuat bahagia dan sedih?”, bisa menjadi hal membangun dan penting. Pak Arif menyampaikan bahwa jangan sampai seseorang menyampaikan pertanyaan tanpa ada penyelesaian dan pemaknaan. Dalam kehidupan keluarga yang penting harus ada cinta dan pengharapan. Paling tidak ada satu hal yang bisa membuat suami istri tetap bertahan di tengah konflik, lebih lanjut disampaikan oleh psikolog yang akrab dipanggil Mbak Amik.

Family Sharing Space ini dilangsungkan di Kapel Pulutan, Wonosari, dan diikuti oleh kurang lebih 35 pasutri berusia kurang dari 40 tahun. Acara berlangsung menarik dari pagi hingga tengah hari. Sejak awal panitia berusaha agar pasutri ini bisa ikut bersama dengan anak-anaknya. Tim Pendampingan Iman Anak (PIA) dilibatkan dalam acara ini membantu panitia untuk membuat acara bagi anak-anak. Dengan demikian orang tua bisa tenang mengikuti FSS sementara anak-anak bisa bergembira bersama teman-temannya. (Alusius Heru Tricahyanto)


2 Replies to “Family Sharing Space : Teladan Orang Tua Dalam Pengasukan Anak”

  1. Theodorus Nugroho Dwi Kristanto

    Terima kasih kepada penyelenggara acara FSS ini. Anak dan mantu saya yang barusan menikah, telah mendapatkan bekal pendampingan dan pengetahuan untuk hidup berumah-tangga mereka. Semoga kedepannya acara seperti ini bisa dilaksanakan secara berkala untuk semua pasangan muda umat paroki. Bravo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *